Oleh: masykurfitriawan | Maret 1, 2008

lazy time

Sabtu adalah hari bangun siang. Hari mencuci nasional. Listening to the musics all day. Tidur siang sepuaznya. Hari keliling-keliling kota. Wakuncar (waktu kunjung pacar) juga ?

Minggu adalah hari seterika nasional. Hari semir sepatu. Hari keliling-keliling kota. Hari nyancai…

Tidak untuk Sabtu ini. Mungkin juga tidak untuk hari minggu besok. Ada silabus, RPP dan spider web yang sudah kelewat deadline. Harus dilembur.

Sabtu adalah hari bangun siang. Hari mencuci nasional. Listening to the musics all day. Tidur siang sepuaznya. Hari keliling-keliling kota. Wakuncar(waktu kunjung pacar) juga ?

Minggu adalah hari seterika nasional. Hari semir. Hari keliling-keliling kota. Hari nyancai…

Oleh: masykurfitriawan | Februari 28, 2008

bunga

Namanya Icha. Dia punya daya imajinasi yang lebih tinggi bila dibandingkan teman-temannya. Ketika ada tugas di sekolah untuk mengarang puisi, dia membuatnya dengan baik. Bahkan sangat baik.

Bunga

Engkau selalu kusiram setiap hari
Baumu harum seperti rembulan
Engkau indah seperti bintang

Engkau pun saat pertama kali ku tanam sudah indah
Engkau juga selalu masuk mimpiku
Bunga engkaulah segalanya

Begitu puisinya. Kalimat yang menggelitikku: Baumu harum seperti rembulan. Engkau indah seperti bintang.

Ketika hendak pulang, aku meminjam bukunya untuk menyalin kembali puisi yang dia buat.

Oleh: masykurfitriawan | Januari 22, 2008

rapotan (2)

Matahari belum begitu tinggi. Sinarnya sedikit mengusir gelap yang menguasai kelas Ali. Bau pengab ruangan karena tertutup seharian, disirnakan dengan semprotan pengharum ruang. Thit…thit…Nyalakan AC, biar ion-ion aerosol itu menyebar ke seluruh ruang.

In the morning
One by one orang tua berdatangan. Istilah jawanya: mbanyu mili. Datang dan pergi silih berganti. Masih pagi. Yang datang langsung terlayani tanpa harus mengantri. Mereka bicara seperlunya saja. Langsung to the point, tidak kebanyakan porsi basa-basi. Keburu ke kantor.
FAQ (Frequently Answer Questions):
Q: Bagaimana nilai anak saya, Yanda ?
A: Alhamdulillah ada kenaikan.
Q: Anak saya rangking berapa, Yanda ?
A: Wah, mohon maaf, saya tidak membuat rangking kelas karena dilarang dari Jakarta.
Setelah menjawab gitu, ku sodorkan legger nilai rapor. Biar mereka ngurutin sendiri kira-kira anak mereka ada di posisi “aman” ataukah masuk dalam “zona gelisah”. Tidak kalah akal, mereka minta dikopikan legger nilai yang selembar itu biar bisa ngurutin di rumah dan ketahuan peringkat anaknya. Mohon maaf ya, Ma… tidak bisa.
Ada yang bisa menerima keputusan sekolah untuk merahasiakan rangking, tapi ada juga yang masih perlu diberi pengertian lagi.

Rada siangan dikit
Secara kesibukan, yang datang rada siangan dikit ini tidak begitu padet. Obrolan juga bertambah topiknya: kebiasaan anak-anak kalau di rumah. Belajarnya, bermainnya, mengatur waktunya, sampai ada yang konsultasi untuk memilih les: jarimatika atau sempoa. I told them, masing-masing ada plus dan minusnya. Tapi kalau saya, sekali lagi KALAU SAYA, jarimatika dan sempoa itu adalah “zat adiktif” yang menimbulkan “ketergantungan”. Ketergantungan untuk menggunakan tangan dan apa itu namanya ya… yang dipakai untuk sempoa itu lhooo…. Tidak melatih anak untuk berproses, tapi mengajari anak untuk “instant”.
Secara topik obrolan bertambah, orang tua yang masuk dalam waiting list juga bertambah. Ada yang nyadar kalau yang ngantri banyak kemudian mempersingkat obrolan, ada juga yang just go on…

Siang, after lunch
Dari daftar pengambilan rapor, masih ada 4 nama yang belum ditanda tangani. Artinya, ada 4 rapor siswa yang belum diambil oleh ortunya. SMS pun terkirim, berusaha mengemasnya dalam bahasa yang tegas, tapi santun. Alhamdulillah tidak lama, mereka datang.
Maaf, Yanda, susah mencari waktu untuk ijin. Maaf, Yanda, tadi di kantor masih banyak kerjaan. Maaf, Yanda, tadi ada tamu.
It doesn’t matter. Yang penting hari ini rapor terambil semua. Mereka yang datang pada jam “after lunch”, tidak banyak obrolannya. Terlihat dikejar waktu.

Dari “in the morning” sampe “siang, after lunch“, ada satu orang tua yang pertanyaannya nyeleneh. Nyeleneh karena berbeda dari yang sering ditanyakan Mama-Papa yang lain. Yang bisa ditiru sama Mama-Papa yang lain (termasuk bekal buat Yandanya dalam mendidik anak, kelak). Begitu duduk di kursi depan mejaku, yang ditanyakan tidak nilai, tapi…
Yanda, bagaimana akhlak anak saya di sekolah ?” Nilai tidak begitu dia kedepankan. Yang penting bagaimana sikap anak kepada yanda-bunda di sekolah juga kepada teman-temannya.
Dia mengungkapkannya dengan kerendahhatian yang tulus.

Dalam hati ini berdecak kagum. Joss tenan… Salut, Pa.

Oleh: masykurfitriawan | Januari 18, 2008

rapotan

Regedek… tinggal sorot dan tarik, maka formula di cell paling buncit terkopi sampai yang paling boncot. Kini sudah mulai tampak, anak-anak mana saja yang kemampuannya hanya “5 watt”, mana yang terus terang terang terus kayak lampu save energy. 15 watt = 40 watt, harganya rada mahal sedikit (dikasih susu yang diperkaya DHA, suplemen ini dan suplemen itu-khan mahal tuh), tapi nyalanya juga lebih cemerlang dan tahan lama. yang begini ini bakal berguna bagi nusa dan bangsa kalau terawat dengan benar.

ngisi rapor semester kali ini tidak seperti ngisi rapor pas pra BLP. sekarang waktunya lebih longgar. ada sekitar 2 minggu. kalau pas pra BLP, waktunya sempit. lagipula waktu itu aku masih tergolong “kencur” dalam urusan administrasi kelas. baru beberapa bulan mengajar. manajemen waktu masih payah sehingga kerjaan menumpuk di belakang. semalaman sampai gak tidur hanya untuk ngisi rapor. walaupun “theklak-thekluk”, tapi tetep saja berusaha mengisi kolom demi kolom nilai di rapor. saingan sama pak dalang yang menjalankan wayang semalam suntuk. kalau pak dalang ditemani para yogo dengan iringan gamelan dan lantunan suara sinden, aku ditemani sama hape. siap untuk missedcall temen yang malam itu juga “ndalang”.

anak-anak, contoh di atas adalah peristiwa penting yang menyenangkan atau yang menyedihkan ? kalau kalian menjawab: menyedihkan,… SALAH!

hidup guru!

Oleh: masykurfitriawan | Desember 25, 2007

demo

Bintang. Alhamdulillah sekarang anak ini berhasil aku “jinakkan”. Seperti anak-anakku di SD, dia masih belum punya “rem”. Mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, kalau memang dia mempunyai kata-kata yang bisa mewakilinya. Kalau tidak punya, ya dia ngambek.

Langit sore sedikit tertutup mendung. Gerimis lembut sempat turun. Namun hanya beberapa menit saja. Aku ngelesi Bintang. Beberapa soal tentang konversi satuan berat dan waktu aku buatkan untuk dia.
“Dikerjakan lima-lima dulu ya, Mas”, dia sudah hapal dengan kebiasaanku. Lima soal dikerjakan, lalu dibahas.
“Iya”
Selang beberapa saat, dia kelihatan capek. Capek mikir, capek nulis.
“Mas Mar punya sulap lagi ?”, tuh khan… Konsentrasinya pindah.
“Nggak, sudah habis. Mas Mar belum menemukan sulap lagi”.
Terkadang aku memang datang dengan “mengantongi” games atau sulap untuk menghilangkan kejenuhan. (wah, ternyata nyambi jadi magician juga ya…) Tidak untuk kali ini. Habis. (belum nggoreng lagi, Bintang…)

Kucoba mengajaknya ngobrol yang ringan-ringan. Untuk mengalihkan perhatiannya sejenak dari pelajaran. Biar nggak bosen ngitung terus.
“Eh, bajunya sama lagi”, kudekatkan bajuku dengan bajunya. Hari kemarin baju kami juga sama warnanya. Biru dongker. Warna celananya anak-anak SMP itu. Kemarin aku memakai baju yang sama dengan hari ini. Tidak apa-apa. Belum ada yang mau nyuciin sieh (baca: istri). Jadi biar ngirit tenaga buat nyuci.
“Enggak,… beda”, tangkisnya. Weleh ngeyel nieh anak.
“Iya, sama”. Beberapa saat Bintang mengamati bajuku.
“Mas Mar renggo to ?” Lheh,… renggo ? Oalah… gareng dinggo ? (Kering-pakai).
“Iya”, dalam hati ini berkata: tidak. Emang belum dicuci koq. Lhah, opo ra mamboew… Tidak. Khan kemarin baru dipake dua jam buat ngelesi. Ngelesi gitu loh, bukan macul atau angkat-angkat barang seperti kuli. Jadi belum bau.

Soal yang kuberikan di sesi pertama habis dia kerjakan. Betul semua. (Mas Mar sieh kalau bikin soal gampang-gampang)
“Yuk,… makan dulu”, suruh ibunya di depan pintu.
Kami menuju ke meja makan.
“Bu’… nasinya kebanyakan”, teriak Bintang melihat piringnya menggunung nasi.
“Iya nieh, kebanyakan”
“Ibu itu sukanya kalau ngambilkan nasi memang banyak. Ibu’ didemo aja yuk mas” We…e..e… (sambil menirukan logatnya mbah Darmo) Provokator juga nieh anak.
“Mas Mar biar gemuk”, suara Ibu Bintang terdengar dari ruangan sebelah.
“Mas Mar tidak mau gemuk, Bu’. Nanti kalau gemuk pacarnya tidak suka”, kata Bintang.

Tau-taunya anak ini kalau aku belum punya pacar…

Oleh: masykurfitriawan | Desember 22, 2007

my students

[Click picture to make it bigger]

Dari kiri belakang:
Sofia yang tinggi dan pemalu, Alda yang dewasa dan sedikit tertutup, Farah yang brillian tapi sedikit mudah panik, Alfa yang kalau makan selalu selesai paling akhir dan besar motivasinya untuk be number one. Tika yang patuh. Syahra yang tidak bisa diajak bercanda dan sering membuat “gebrakan”. Vita yang pendiam dan sering telat dijemput pulang sehingga aku harus nunggui lama, Tata si gendut dan yang paling sering telpon, Shinta yang kecil dan lincah-sering hilang dari pandanganku karena suka jalan-jalan di kelas, Rizki yang begitu mencintai adiknya sehingga kalau cerita pasti ada kata-kata: Yanda, adikku tu kemarin…, Nadya yang sudah lebih dewasa bila dibanding teman-temannya, Tasya yang “plengah-plengeh”, Tifah yang masih suka menebak-nebak, Yanda Rahmat partnerku yang baik.
Dari kiri depan:
Bintang yang kini sedikit lebih pendiam daripada dulu, Alby yang sudah mengenal tanda “♥”, Nabil yang kalau sakit tidak mau ditolong-maunya hanya menangis sambil mengaduh, Fadhil yang konsekuen, dewasa dan bijaksana, Indra yang lebih muda dari usianya, Farhan yang pemalu dan selalu sembunyi dibelakang punggung teman ketika akan ditunjuk untuk memimpin di depan, Valdi yang selalu ingin memberikan yang TERBAIK untuk mamanya hingga tidak puas dengan peringkat 4 di kelas, Alif yang sering sakit-sakitan dan kurang percaya diri ketika menghadapi pelajaran, Pandu yang sering dipanggil temannya : Pandan katsiron, Pandu Nur Remidi (karena sering remidi-tapi itu dulu), Harfi yang “untouchable”, Lukman yang brilliant dan (kata teman-temannya) hanya dia anakku. Yang lain bukan.

Oleh: masykurfitriawan | Oktober 10, 2007

baju baru

Baju koko yang bakal aku pakai untuk sholat ied ke lapangan sudah terbeli. Sudah tercuci pula. Sudah hilang “bau toko”nya.

Sudah tradisi, aku meletakkan cucian yang sudah diperas di atas bibir sumur. Seringkali mendapat wanti-wanti dari bapak perihal kebiasaanku itu. Nanti kalau bajunya masuk ke sumur,… rak dadi gawean.

Satu persatu pakaian ku ambil dari ember. Ku gantung di hanger dan ku jemur. Lhah…baju koko-ku tidak ada.

Mataku menyapu pakaian yang telah tergantung di jemuran. Baju koko baru warna krem tidak ada di sana. Kubolak-balik sisa pakaian yang ada di ember barangkali tertimbun pakaian yang lain. Tidak ada. Oh, GOD! Jantung ini berdegup kencang. Panik. Jangan-jangan masuk ke sumur.

Aku berlari ke belakang. Semoga baju kokoku masih nyangkut apalah gitu.

Nihil. Nothing. Kokoku lenyap. Sudah tertelan air sumur. Sigap, kuambil dadung dan besi yang bisa ku gunakan untuk “jangkar”. Ku turunkan besi itu ke dalam lubang sumur. Sempat putus asa. Apa aku harus mengeluarkan air sumur untuk mengambil baju kokoku. Puasa gitu loh…aku tidak yakin kuat menguras sumur dengan kerekan.

Beberapa saat, aku baru sadar. Baju koko sudah aku cuci kemarin, dan baru tadi pagi, sebelum nyuci, aku lipat dan kumasukkan lemari. Aku kira, aku mencucinya pagi ini. Panik ketika baju koko belum aku jemur, tapi di ember juga tidak ada. Pantes aja tidak ada… lha wong sudah di dalam lemari…

Oleh: masykurfitriawan | September 27, 2007

alifia

Alifia berpakaian lusuh. Rambutnya tipis, sebahu. Kulitnya makin nampak legam ditimpa mentari yang bersinar terik siang itu. Gadis kecil yang sejak beberapa hari lalu hampir tidak pernah absen dari pandangan mata ketika aku melewati lampu lalu lintas di perlimaan itu.

Beberapa hari yang lalu, ketika aku terhenti oleh lampu merah, dengan tangan tengadah dia mendekat. Lalu menjauh dengan tangan kosong. Maaf. Waktu itu, seingatku tidak ada uang di saku celana. Lagi pula, aku pikir akan terlalu lama untuk mengeluarkan dompet dan mengambil uang “terkecil” untukmu. Keburu lampu hijau.

Tidak pada hari kemarin. Lagi, dia merapat ke kendaraanku. “Mas, kasihan saya, Mas. Dari pagi belum makan”, emisnya dengan tangan tengadah. Sejurus dia melirik bungkusan karton yang aku gantung di kendaraan. Tahu-tahunya dia kalau bungkusan itu berisi makanan. Ku ambil, ku tengok untuk memastikan tidak ada barang berharga milikku yang ada di dalamnya. Tidak ada. Kuulurkan padanya. Nih, burger ini menjadi rejekimu, bukan rejekiku.

Siang ini, ketika lampu merah menghentikan laju kendaraanku di perlimaan yang sama, kulihat Alifia di seberang jalan. Hendak menyeberang menyusuri zebra cross. Wajahnya muram dan tampak kesal dengan seseorang. Kakinya menendang-nendang kecimpring yang sering dia gunakan sebagai iringan nada sumbang yang dia lantunkan. Di seberang jalan, di sudut yang lain, terlihat ibu Alifia. Berteduh di bawah kresek yang terikat dengan pepohonan. Sedang “neteki” adik Alifia.

Oleh: masykurfitriawan | September 25, 2007

mengaji


Yah, kalau urusan ngaji di desa, tinggal “betah-betahan”. Pihak mana yang akan lebih lama bertahan. Santri, ataukah ustadznya. Dari yang sudah-sudah, santri mengalahkan ustadznya. Jelas saja, berangkat dari rumah mendapat uang saku dari ibu, di mesjid ketemu temen, trus gojegan atau jajan kalau pas ada yang menjual jajan. Belum lagi kalau ada warga yang sedang dilapangkan rizki atau bahkan ustadznya sendiri, mengeluarkan beberapa ribu untuk membeli snack untuk dibagikan kepada mereka. Ben seneng. Ben sing melu akeh. Tapi, pas santrinya lumayan banyak, giliran ustadznya yang kewalahan. Tidak bisa mengatasi anak yang terlalu banyak. Kalau ngaji, santri malah rame dewe-dewe. Kalau ditanya orang tua perihal ulah mereka, mereka menjawab: lha gurune kurang galak, kok. Weleh…

Perlu dicari ustadz lagi. Telah diketok palu, bahwa karang taruna pada Ramadhan tahun ini mengadakan TPA. Bukan untuk anak-anak. Tapi untuk karang taruna itu sendiri. Ini dilakukan dalam upaya perburuan SDM yang nantinya bisa dijadikan ustadz-ustadzah ngaji di mesjid. “Mulang” anak-anak yang besar tekadnya itu.

Hari pertama
Ba’da tarawih, lima pemudi telah duduk bersandar di dinding masjid. Menunggu dimulainya TPA. Yang pemuda juga ada lima. Hanya seperempat dari jumlah anggota karang taruna. Sebuah awal yang lumayan. Ternyata, anggota karang tarunanya hanya 10. Lima pemudi, lima pemuda. APA KATA DUNIA ???!!!

Hari kedua
Satu pemudi terevolusi. Mungkin baru “M” (Malu, Males, Menstruasi – coret yang tidak perlu) Wis rapipi eh, rapopo. Tinimbang ora ono babar blas.

Hari ketiga
Kini tinggal tiga pemudi. Mereka pun berangsur-angsur lenyap dari masjid, pulang. Malu kalau hanya trio saja. Pemudanya juga ikut-ikutan. Lha kowe mulih, kok. Aku yo melu mulih no…. Akhirnya, satu ustadz dan dua santri. Tadi pas kultum sebenarnya juga sudah diingatkan oleh khatib: SEMUA anggota karang taruna harus ikut mensukseskan program ini. Yang sudah ada di masjid jangan pulang dulu, yang masih ada di rumah harus segera ke masjid.

Oleh: masykurfitriawan | September 24, 2007

kurang eL

Namanya Muhammad Nabil. Di kelas dua ini, kemampuan menulisnya masih sedikit payah. Pernah dalam suatu test, dia salah menulis namanya sendiri. Mungkin karena kurang konsentrasi. Muhammad Nabi. Lhah, kurang “l”. Untung saja namanya tidak tertulis terbalik: Nabi Muhammad.

Pada pelajaran science, aku menerangkan perihal seaweeds yang bisa diubah menjadi jelly. Aku lontarkan pertanyaan kepada mereka, kenapa seewead yang habitatnya di laut tidak membuat jelly terasa asin. Aku menyinggung tentang rasa air laut. Lalu Nabil berkata, “Yanda, kenapa air laut itu rasanya asin?”. Sedang aku memikirkan jawaban yang bisa ditangkap oleh pikiran mereka, Nabil kembali berkata, “Aku tahu, Yanda. Karena ikannya keringetan dikejar-kejar nelayan terus”
Lheh, darimana dia dapet lelucon ini.

“Terus, kenapa manusia takut sama hujan ?”, dia kembali melempar tebakan kepadaku. Lagi, belum sempat aku menjawab,…
“Karena hujan datangnya keroyokan”, dia memberiku kunci jawabannya.

Usut punya usut, ternyata dia peroleh lelucon itu dari bungkus permen karet yang dulu sering dia beli.

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori