::..Masykur Fitriawan's Weblog ..::

Entries categorized as ‘Uncategorized’

kasih sayang dan sungai

Mei 11, 2008 · & Komentar

Angin kemarau menabraki jaket yang kukenakan sehingga menimbulkan suara: begh…begh…begh… Hari telah menghalau sinar mentari sehingga alam nampak gelap. Kendaraan mulai menyalakan lampu begitu juga rumah-rumah di pinggir jalan ini.

Perjalanan pulang dari desa Imogiri, Bantul. Sebuah desa yang tenar dengan gurahnya. Dulu sempat ingin gurah. Biar napas ini lebih plong dan suara lebih lantang. Tapi mendengar efek samping dari gurah: pusing, badan seperti dipukuli, sakit, nyaliku jadi ciut. Biarlah Noeg dulu yang menjadi kelinci percobaan untuk membuktikan hipotesa yang kudapat dari teman-teman di SD.

Setelah bertanya padanya layaknya seorang wartawan yang mewawancarai seorang narasumber, barulah aku membulatkan tekadku. Suatu hari nanti aku kan kembali lagi ke Bantul. Mengikut jejak Noeg.

Di perjalanan pulang ada sebuah truk berbak warna coklat tua melanggar sepeda motorku. Di pantat truk itu, lebih tepatnya di pintu bak tertulis: kasih sayangnya seperti sungai. Tidak tahu “nya” siapa. Hanya sepenggal kalimat itu saja. Lalu aku berpikir. Kenapa penulis mengumpamakan kasih sayang”nya” dengan sungai ? Pikirku melayang pada sungai kecil di dekat rumah. Jika kemarau datang, sungai itu kering tidak mengalirkan air. Pak tani tidak bisa memberdayakannya dan sungai itu untuk sementara tidak bermanfaat bagi penduduk desaku. Saat itu juga dia, sungai itu, akan tampak kotor. Rumpun pohon bambu yang ada di kanan kiri sungai akan menjatuhkan daunnya ke badan sungai. Karena tidak ada air, maka daun-daun kering itu mengonggok di sana-sini. Kelakuan warga juga akan memperparah tampang sungai itu di musim kemarau. Mereka nekad membuang sampah ke sungai. Dan, tidak akan ada air yang akan mengantarkan sampah-sampah itu ke hilir sungai dan akhirnya sampai di laut. Sampah ngetem di situ menunggu air yang akan dia tumpangi. Maklum, warga tidak punya TPA.

Desember tahun lalu sungai Bengawan Solo mengamuk. Di musim penghujan itu dia menghanyutkan ratusan mungkin ribuan rumah penduduk, ratusan hektare sawah, dan menjadi trauma tersendiri bagi korbannya.

Kembali ke: kasih sayangnya seperti sungai. Kalau seperti sungai, berarti kasih sayang”nya” akan tampak kotor karena digunakan untuk ngetem para sampah di musim kemarau dan tidak bermanfaat. Bila musim penghujan tiba, kasih sayang”nya” sewaktu-waktu bisa mengamuk. Merugikan. Kasih sayang”nya” bisa kering, bisa juga banjir. Kalau kering tidak bermanfaat, kalau banjir mendatangkan kerugian.

Sampai sekarang aku belum maksud dengan tulisan itu.

Kategori: Uncategorized

ekpeyet

Mei 9, 2008 · 1 Komentar

Aku sebut saja dia Lida. Sebutan itu kupenggalkan dari sederetan nama panjangnya. Postur tubuhnya semakin nampak mungil karena “mahkotanya” yang ditutupi jilbab. Tetapi, dibalik mungil tubuhnya tersimpan sebuah semangat kompetisi yang tinggi, potensi untuk mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Dia begitu ingin mengetahui siapa yang menduduki peringkat teratas di kelas, siapa yang peringkatnya ada di atas dia, yang ada di bawahnya. Jika menerima pesan dari mamanya, pagi-pagi begitu dia masuk kelas, dia langsung menyampaikannya kepadaku. Tidak menunda sampai nanti. Takut lupa, mungkin.

Mamanya, dia adalah “mama atensi”. Ku sebut demikian karena setiap kali berkomunikasi denganku melalui sms, dia selalu membalas: terima kasih atensinya.

Jam 09.55. Anak-anak ku suruh cuci tangan untuk persiapan makan pagi. Setelah berkumpul lagi di kelas dan berdoa, mereka menyantap hidangan cateringnya.

Lida mendekati mejaku dan bertanya, “Yanda, ekpeyetnya boleh dimakan tidak ?” katanya sambil menunjuk dasaran tempat cateringnya yang bulat berwarna merah.

Mendengar pertanyaannya aku malah bertanya-tanya. Ekpeyet itu apa ? Apakah itu semacam landasan tempat catering ? Atau sesuatu yang digunakan untuk melapisi makanan ? Terbuat dari kardus ?
“Ekpeyet itu apa ?”
“Itu lho, Yanda yang biasanya ada di makanan itu lho”, jelasnya padaku.
Aku masih belum paham maksudnya. Lalu dia mengambil snacknya dan menunjukkan padaku. Telunjukknya menunjuk tanggal kadaluarsa.
“Ooo,… expired to…” barulah aku paham. Expired dia ucapkan ekpeyet. Yah, seperti mengucapkan tempe penyet.

Lain lagi beberapa hari yang lalu. Pagi itu dia membawa pesan dari mamanya, “mama atensi”. Sebuah pesan berisi pertanyaan.
“Yanda, kalau mau membayar isi ulang bisa titip Yanda ?”

“Isi ulang ?” Isi ulang air mineral itu ? Aku kan tidak buka usaha depot isi ulang air minum!
“Iya, yanda kalau mau naik kelas tiga khan harus isi ulang”, jelasnya.
“Ooo… daftar ulang maksudnya ?!”

Ini anak, expired dibaca ekpeyet, daftar ulang dikatakannya isi ulang…

Kategori: Uncategorized

pramuka

April 21, 2008 · & Komentar

Cahaya lampu philip save energy menerangi beberapa sudut saja ruang kamarku. sudut yang lain gelap karena masuk di daerah “umbra” meja dan monitor komputerku. lampu putih itu kupasang (kutancapkan) di stop kontak yang letaknya 50 cm saja dari lantai. tepat di depan lampu itu, sebuah logam panas meluncur kesana-kemari. berusaha menghaluskan sepotong baju seragam coklat: pramuka. dari lubuk hati yang paling dalam, aku tidak sreg memakai seragam ini. Pramuka, beri aku waktu untuk mencintaimu. Maaf ya, Pak Powel.

Sewaktu SD aku hanya mengenakannya begitu saja. Tanpa atribut lengkap. Tidak ada hasduk, baret, dan badge yang semestinya dijahit di lengan dan saku. Bapak dan Ibu guru tidak pernah memberikan teguran perihal seragam kami. Mungkin sudah cukup membahagiakan bagi mereka jika kami belajar dengan tekun dan tidak nunggak membayar SPP yang waktu itu hanya Rp1.200,- perbulan. Uang saku yang Rp100,- sudah dapat “brambang asem” dan es kucir di warungnya Lik Ndoyo, seorang istri tukang kebun sekolah kami sekaligus ibu kantin semata wayang. Sebuah “kemakmuran” yang masih kami rasakan dan dirasakan rakyat Indonesia pada umumnya karena apa-apa murah.

Setiap kali mengadakan kemah Persami, aku tidak pernah terpilih untuk mewakili sekolah. Yang dipilih hanya anak-anak putri. Mungkin pikirnya guruku waktu itu, kemah  identik dengan memasak nasi sendiri menggunakan “kendhil” yang akan digantung dan dibakar dengan menggunakan kayu. Dan itu adalah pekerjaan perempuan (Ibu memasak di dapur. Ayah membaca koran di teras). Jadi, biarlah perempuan-perempuan saja yang ikut agar mendapat pelajaran bagaimana menanak nasi. Yang laki-laki belajar membaca koran. Setiap kali ada pesta siaga, guruku tidak pernah mempersiapkan aku dan timku dengan matang. Apa yang kami tampilkan hanya spontanitas. Dan sebagaimana hasil yang berbanding lurus dengan usaha, sekolahku tidak pernah mendapat peringkat. Pun juara harapan.

Setiap hari Kamis, kami yanda dan bunda mengenakan seragam pramuka. Kali ini lengkap. Berbeda dengan sewaktu SD. Kami mengenakan seragam pramuka dengan hasduk dan segala badgenya. Di atas saku baju yang sebelah kiri tertempel bordiran nama SD kami.

Hari Kamis sore itu sebelum aku “nyangkul” (sebutan yang diberikan oleh teman-teman kuliah dulu untuk pekerjaan sambilan: ngeles privat), aku mampir di sebuah masjid di Mojosongo, masih berseragam hanya tanpa hasduk dan peci yang biasa aku pakai sewaktu mengajar. Setelah sholat ashar, aku duduk-duduk di teras masjid. Pemuda belasan tahun tersenyum padaku.
“SMA mana, Mas ?” sapanya padaku.
Aku tersenyum simpul. Kupandangi wajahnya. Dan dapat kutangkap bahwa dia adalah pemuda baik nan lugu. Itu menurutku.
“Saya di SD, koq Mas” jawabku
Yang bertanya semakin keheranan begitu mendengar jawaban dariku.
“Saya mengajar di SD” lanjutku tidak tega melihat wajahnya yang semakin gencar memancarkan tanda tanya.
“Ooo… ngajar to. Saya kira masih SMA”. Pemuda itu berlalu menahan malu.

Dan di hati ini, “Apa aku terlalu muda untuk menyandang predikat pak guru? Ataukah pemuda itu hanya terkelabui dengan seragam dan postur tubuhku ?”

 

Kategori: Uncategorized

kemah dan alat sholat

April 19, 2008 · & Komentar

Aku terbangun pada pagi yang cerah. Ya,… cerah karena aku bangunnya kesiangan. Coba kalau in the early morning. Pasti belum bisa mengatakan apakah pagi ini cerah atau tidak karena cuaca sekarang suka berubah mendadak. Jedug-jedug suara musik yang mengiringi lagu yang dinyanyikan Mulan Jameela merontokkan rasa malasku.

Mendidik anak-anak kelas Ali makin banyak kurasakan hikmahnya. Banyak pelajaran yang bisa aku unduh. Ketika mereka bertengkar, aku harus menjadi hakim yang adil menurut kaca mata mereka. Aku harus benar-benar mendengarkan kesaksian mereka satu persatu. Dengan teliti memilah mana kata-kata yang merupakan pembelaan dan mana kata-kata yang dibelokkan untuk menutupi kesalahan. Setelah tahu duduk permasalahannya, aku akan kembali bertanya kepada mereka apakah tindakan mereka dapat dikatakan benar atau tidak. Meyakinkan bahwa dia bersalah dan harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Siang ketika tinggal beberapa anak saja yang belum pulang, menunggu jemputan. Aku mengoreksi pekerjaan Bahasa Indonesia mereka. Minggu yang lalu ku berikan PR untuk merencanakan kemah. Mereka harus menulis tanggal, jam, tempat dan peserta yang mengikuti kemah. Di bawahnya ada kolom keperluan/barang apa saja yang harus mereka bawa. Sebagian besar mereka menuliskan: tenda, peralatan mandi, peralatan memasak, makanan, bantal, dan guling. Mereka menuliskan keperluan-keperluan itu dengan urutan yang berbeda. Natilla berbeda dengan sebagian mereka. Dia menempatkan: peralatan sholat di urutan pertama.Baru perlengkapan mandi, makan dan yang lainnya. Aku tersenyum bangga dengan anak ini. Tidak peduli apakah jawabannya itu hasil dari bantuan orang tuanya atau merupakan jawaban inisiatifnya sendiri. Bahkan, jika orang tua yang membantunya mengisi, satu lagi pelajaran yang aku petik: kalau anak akan kemah, peralatan yang harus dicatat di urutan pertama dan tidak boleh mereka lupakan untuk dibawa adalah peralatan sholat.

Kategori: Uncategorized

berubah

April 5, 2008 · & Komentar

Semua Kebanyakan perubahan yang terjadi memaksa kita untuk beradaptasi lagi. Mulai dari nol-kalau perubahan itu begitu berubah.

  1. Sewaktu Microsoft melancarkan sweeping kepada pengguna produk Microsoft bajakan, masyarakat pada “ngungsi” menggunakan yang opensource. Kalangan pengusaha warnet bingung. Kalau ikut²an ngungsi, “omset” mereka akan berkurang. Bagaimana tidak, pada waktu itu-mungkin juga sampai sekarang- masyarakat masih “alergi” dengan “penguin.” Mereka memutuskan tetap menggunakan “jendela”. Biar aman, warnet ditutup ketika ada isu sweeping (Duh, jadi inget lika-liku penunggu warnet.)
  2. Mama-mama di sekolah yang dulu pakai jilbab dan sekarang melepasnya membuat “pangling”. Harus “berkenalan” lagi. (Kalau boleh bilang, mama lebih cantik lho kalo pakai jilbab. :) )
  3. Konversi minyak tanah ke gas. Masyarakat juga bingung. Ada yang trauma dengan pengalaman tetangga yang harus menginap di rumah sakit karena tabung gasnya meledak, ada juga yang tidak berani membayar gas-yang walaupun dihitung-hitung lebih hemat uang dibanding menggunakan minyak tanah.
  4. Performance wordpress ini. Mendapatinya berbeda seperti biasanya, membuat sedikit canggung ketika mau posing maupun editing.

 

Kategori: Uncategorized

turun gunung

April 5, 2008 · 1 Komentar

turun gunung

Setelah satu minggu turun gunung karena mengurusi tetek bengek tentang rapotan, kini kembali lagi ke pertapaan. pengen posting lagi tulisan yang dulu.

Kategori: Uncategorized

judi, juga

Maret 29, 2008 · & Komentar

Sengatan matahari siang membuat hembusan angin kian terik. Mahaagung-lah yang menciptakan matahari. Yang menerbitkannya dari timur dan menenggelamkan – untuk diterbitkan lagi esok hari – di ufuk barat. Tidak bisa dibayangkan jika tanpa matahari. Kita harus punya banyak stok baju. jangan sampai tidak pakai baju karena baju yang dicuci belum kering. Pak tani juga akan kesulitan mengeringkan padi. Pohon-pohon tidak akan “memasak” makanan. Jika matahari terbitnya berhenti,… hi…ngeri. Namun seringnya manusia mengeluh: panase! Diterbitkan matahari biar tumbuhan bisa bermanfaat bagi manusia tapi manusia malah mengeluh. Bagaimana kalau Tuhan mendengar trus ngambek? Trus matahari disuruh berhenti terbit. Kun fa ya kun.

Untung Tuhan Maha Penyayang dan tidak Ngambekan.judi

Membaca tulisan: judi & utang, jadi ingat beberapa waktu lalu. Malam ketika pulang dari Solo, sering kulihat sekawanan bapak-bapak bersila disalah satu sudut kalurahan. BERJUDI DI KELURAHAN! Kalau siang dibuat pak lurah ngantor, kalau malam dijadikan warganya untuk “mengadu nasib“. Agaknya kebiasaan warga terendus juga. Sekarang, untuk mempertahankan kewibawaannya, kelurahan diberi pagar teralis. Bila beranjak sore, pintu pagar ditutup. Kawanan penjudi pun tidak bisa masuk. Entah pindah kemana.

Di Solo juga ada. Di sudut kota yang jarang sekali terlihat lalu-lalang orang. Beberapa kendaraan roda tiga (baca: becak) parkir. Di balik kendaraan-kendaraan itu terdapatlah beberapa bapak tukang becak “mencari tambahan penghasilan“.

Denger-denger sekarang judi juga bisa lewat internet. Wah, ternyata bandar-bandar itu peka juga terhadap perkembangan teknologi.

Judi (judi), menjanjikan kemenangan
Judi (judi), menjanjikan kekayaan
Bohong (bohong), kalaupun kau menang
Itu awal dari kekalahan
Bohong (bohong), kalaupun kau kaya
Itu awal dari kemiskinan

Judi (judi), meracuni kehidupan
Judi (judi), meracuni keimanan
Pasti (pasti), karena perjudian
Orang malas dibuai harapan
Pasti (pasti), karena perjudian
Perdukunan ramai menyesatkan

Yang beriman bisa menjadi ingkar, apalagi yang awam
Yang menang bisa menjadi jahat, apalagi yang kalah
Yang kaya bisa menjadi melarat, apalagi yang miskin
Yang senang bisa jadi sengsara, apalagi yang susah

Itu sebab judi diharamkan

Uang yang pas-pasan karuan buat makan
Itu cara sehat ‘tuk bisa bertahan
Uang yang pas-pasan karuan ditabungkan
Itu cara sehat ‘tuk jadi hartawan

Kalau orang sudah gila judi
Uang belanja pun dikebiri
Kalau orang sudah gila judi
Tak punya uang bisa mencuri

Sebab itu judi diharamkan

Judi

(Rhoma Irama)

Kategori: Uncategorized

nylekit

Maret 22, 2008 · & Komentar

Air yang menggenangi telapak kakiku dinginnya merembet sampai kepala. Langit belum menuntaskan tugasnya untuk menumpahkan air kehidupan. Rintik hujan masih turun di sana-sini.

Di tengah suasana dingin seperti ini, membuatku merasa boring karena tidak bisa go anywhere. Seperti terkungkung di dalam bilik kostku. Perasaan ini semakin menjadi karena tetangga kamar pada pulang kampung. Aku tidak punya nyali untuk keluar menghadapi Sang Angin Malam yang berkeliaran.

Melayanglah sebuah SMS ke teman lama. Sekedar menanyakan kabar. Dan memberitahuku bahwa aku sekarang kost. Punya maksud agar lain kali dia bisa datang sekedar menemaniku.

Jawaban atas pertanyaanku dia jawab dan dia menambahkan: gimana, enak g jadi guru?

Sebuah pertanyaan yang nylekit bagiku. Ku balas: hidup kalo enak2 terus malah tidak terasa enak. Slalu ada hitam-putih biar yang putih kelihatan putih.

Kategori: Uncategorized

ayat-ayat cinta

Maret 9, 2008 · & Komentar

Ketika diterbitkan, novelnya laris manis di pasaran. Naluri seorang sutradara agaknya menangkap peluang ini untuk mengemasnya dalam sebuah film layar lebar. Hasilnya, nasib film ini tidak jauh berbeda dengan novelnya.

Para pembaca novel ayat-ayat cinta yang terbius dengan jalan cerita cintanya dan karakter Fahri yang “nyaris” ideal, ingin mengikutinya lagi dalam bentuk sesuatu yang lain: film layar lebar. Bukan dari kalangan pemudi saja yang memenuhi gedung-gedung bioskop untuk menyaksikannya. Dari kalangan adam juga banyak lantaran mendampingi dan demi mengabulkan permintaan pujaan hati mereka. Orang tua pun tidak ketinggalan. Mungkin mereka ingin mengenang kisah kasih ketika muda belia dulu dengan suaminya yang sekarang atau seorang exgirlfriend-exboyfriend. Di sekolahan juga. Bunda dan yanda begitu kepengen menyaksikan film ini. Kebetulan di sekolahan sekarang sudah pasang internet yang unlimited, jadi bisa download sepuasnya. Film ayat-ayat cinta diunduh dari dunia maya. Full and free.

Keponakan yang baru duduk di kelas 1 SMP, ketika mendengar bahwa aku mendownload film itu dari internet, ingin juga memilikinya. Sebelumnya dia sempat mengajakku untuk nonton di bioskop.

Lain lagi dengan Bintang.Malam ketika ngelesi Anikawa, hpku berdering. Tiga buah sms masuk. Dua delivery report dan satu lagi datangnya dari Ibu Bintang.

Mar, Ahad sore tdk les.Acara diganti nonton film ayat2 cinta, kamu sama Bintang.Jam 15.00.Gmn mau gak?Kamu sudah nonton belum?

Seorang Bintang pun ingin menyaksikan. Agenda hari ahad: Bintang Les nonton ayat-ayat cinta.

Kategori: Uncategorized

ke solo aku kan kembali (2)

Maret 2, 2008 · & Komentar

At school
Taksi yang kami tumpangi bukannya masuk ke halaman sekolah, tapi malah masuk ke hotel grand Kemang yang lokasinya persis di muka sekolah. Dikira mau check in, za ? Jangan salah! Begini-begini tidak mungkin check in di GRAND Kemang (Mentereng ya namanya?!).
Salah satu dari kami memberi tahu si pengemudi untuk keluar dari area parkir hotel dan masuk ke halaman SD.
Kami disambut oleh pak satuan pengamanan yang baik hati. Bagaimana tidak, dia mempersilakan begitu saja ketika kami meminta izin untuk numpang sholat shubuh di masjid sekolah. Salah satu dari mereka mengantar kami. Membukakan pintu dan menaiki tangga, memandu kami hingga sampai di tempat kami akan sholat shubuh.

Info terakhir yang kami terima: test dimulai besoknya. Katanya itu info terbaru dari Kemang. Tapi, ternyata info itu sudah kadaluarsa. Info yang paling “panas” adalah bahwa tes diadakan pagi itu.

Kami berburu kamar mandi untuk mandi. Siapa cepat dia dapat! (Eh, denger-denger ada yang tidak mandi. Siapa za…???)

Ku bongkar satu persatu kemeja yang ada di tas. Hujan deras selama perjalanan di bis tadi malam ternyata airnya membasahi kemejaku. Semua kemejaku. Tidak ada pilihan lain. Akhirnya aku test dengan pakaian ngecemes alias basah!

Selesai tes, pulang ke “penginapan”. Dalam perjalanan, taksi yang kami tumpangi harus berhenti berulang kali dan menunggu kendaraan yang di depan berjalan. Macet. Lama.

Akhirnya kami sampai di tempat dimana kami bisa menanggalkan lelah. Sebuah rumah yang berada di kampung yang padat. Jalan menuju rumah ibaratnya jalan tikus. Kecil sekali. Dinding-dinding rumah menjadi bentengnya.

Hati kecil ini berkata: bagaimana penduduk sini bisa bernapas ya? Saat itu aku merindukan kampung halamanku. Menghirup udara segar sebebas-bebasnya, memandangi hamparan tanah dengan leluasa. Berbeda dengan di sini, di Jakarta ini. Sejauh mata memandang adalah tembok. Angin pun seakan enggan mampir di perkampungan ini. Karena mereka sering nabrak-nabrak dinding-dinding rumah.

Jam 06.30 pagi, hari Kamis
Kami serombongan berangkat menuju ke sekolah. Untuk menuju ke jalan raya, harus berjalan seratusan meter lebih. Metro mini telah tercarter. Seratus ribu untuk mengantarkan kami semua sampai di Kemang. Deal!

Dalam perjalanan, tak tahunya pak sopir tak tahu kemana arah ke kemang. Sejak semula aku sudah ada bad feeling. Metromini ini melaju berlawanan arah dengan ketika aku pulang kemarin.

Setiap polisi yang ditanya menunjukkan arah yang berbeda. Akhirnya kami hanya muter-muter. Melewati jalan yang sama sampai empat kali. Jam 08.00 baru sampai di sekolah.

Selesai test di hari kedua, langsung kuputuskan untuk pulang. I miss my Solo. Teman-teman yang lain membujuk untuk jalan-jalan ke Blok M dulu. Nope!

ke solo aku kan kembali (1)

Kategori: Uncategorized