Aku sebut saja dia Lida. Sebutan itu kupenggalkan dari sederetan nama panjangnya. Postur tubuhnya semakin nampak mungil karena “mahkotanya” yang ditutupi jilbab. Tetapi, dibalik mungil tubuhnya tersimpan sebuah semangat kompetisi yang tinggi, potensi untuk mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Dia begitu ingin mengetahui siapa yang menduduki peringkat teratas di kelas, siapa yang peringkatnya ada di atas dia, yang ada di bawahnya. Jika menerima pesan dari mamanya, pagi-pagi begitu dia masuk kelas, dia langsung menyampaikannya kepadaku. Tidak menunda sampai nanti. Takut lupa, mungkin.
Mamanya, dia adalah “mama atensi”. Ku sebut demikian karena setiap kali berkomunikasi denganku melalui sms, dia selalu membalas: terima kasih atensinya.
Jam 09.55. Anak-anak ku suruh cuci tangan untuk persiapan makan pagi. Setelah berkumpul lagi di kelas dan berdoa, mereka menyantap hidangan cateringnya.
Lida mendekati mejaku dan bertanya, “Yanda, ekpeyetnya boleh dimakan tidak ?” katanya sambil menunjuk dasaran tempat cateringnya yang bulat berwarna merah.
Mendengar pertanyaannya aku malah bertanya-tanya. Ekpeyet itu apa ? Apakah itu semacam landasan tempat catering ? Atau sesuatu yang digunakan untuk melapisi makanan ? Terbuat dari kardus ?
“Ekpeyet itu apa ?”
“Itu lho, Yanda yang biasanya ada di makanan itu lho”, jelasnya padaku.
Aku masih belum paham maksudnya. Lalu dia mengambil snacknya dan menunjukkan padaku. Telunjukknya menunjuk tanggal kadaluarsa.
“Ooo,… expired to…” barulah aku paham. Expired dia ucapkan ekpeyet. Yah, seperti mengucapkan tempe penyet.
Lain lagi beberapa hari yang lalu. Pagi itu dia membawa pesan dari mamanya, “mama atensi”. Sebuah pesan berisi pertanyaan.
“Yanda, kalau mau membayar isi ulang bisa titip Yanda ?”
“Isi ulang ?” Isi ulang air mineral itu ? Aku kan tidak buka usaha depot isi ulang air minum!
“Iya, yanda kalau mau naik kelas tiga khan harus isi ulang”, jelasnya.
“Ooo… daftar ulang maksudnya ?!”
Ini anak, expired dibaca ekpeyet, daftar ulang dikatakannya isi ulang…