Cahaya lampu philip save energy menerangi beberapa sudut saja ruang kamarku. sudut yang lain gelap karena masuk di daerah “umbra” meja dan monitor komputerku. lampu putih itu kupasang (kutancapkan) di stop kontak yang letaknya 50 cm saja dari lantai. tepat di depan lampu itu, sebuah logam panas meluncur kesana-kemari. berusaha menghaluskan sepotong baju seragam coklat: pramuka. dari lubuk hati yang paling dalam, aku tidak sreg memakai seragam ini. Pramuka, beri aku waktu untuk mencintaimu. Maaf ya, Pak Powel.
Sewaktu SD aku hanya mengenakannya begitu saja. Tanpa atribut lengkap. Tidak ada hasduk, baret, dan badge yang semestinya dijahit di lengan dan saku. Bapak dan Ibu guru tidak pernah memberikan teguran perihal seragam kami. Mungkin sudah cukup membahagiakan bagi mereka jika kami belajar dengan tekun dan tidak nunggak membayar SPP yang waktu itu hanya Rp1.200,- perbulan. Uang saku yang Rp100,- sudah dapat “brambang asem” dan es kucir di warungnya Lik Ndoyo, seorang istri tukang kebun sekolah kami sekaligus ibu kantin semata wayang. Sebuah “kemakmuran” yang masih kami rasakan dan dirasakan rakyat Indonesia pada umumnya karena apa-apa murah.
Setiap kali mengadakan kemah Persami, aku tidak pernah terpilih untuk mewakili sekolah. Yang dipilih hanya anak-anak putri. Mungkin pikirnya guruku waktu itu, kemah identik dengan memasak nasi sendiri menggunakan “kendhil” yang akan digantung dan dibakar dengan menggunakan kayu. Dan itu adalah pekerjaan perempuan (Ibu memasak di dapur. Ayah membaca koran di teras). Jadi, biarlah perempuan-perempuan saja yang ikut agar mendapat pelajaran bagaimana menanak nasi. Yang laki-laki belajar membaca koran. Setiap kali ada pesta siaga, guruku tidak pernah mempersiapkan aku dan timku dengan matang. Apa yang kami tampilkan hanya spontanitas. Dan sebagaimana hasil yang berbanding lurus dengan usaha, sekolahku tidak pernah mendapat peringkat. Pun juara harapan.
Setiap hari Kamis, kami yanda dan bunda mengenakan seragam pramuka. Kali ini lengkap. Berbeda dengan sewaktu SD. Kami mengenakan seragam pramuka dengan hasduk dan segala badgenya. Di atas saku baju yang sebelah kiri tertempel bordiran nama SD kami.
Hari Kamis sore itu sebelum aku “nyangkul” (sebutan yang diberikan oleh teman-teman kuliah dulu untuk pekerjaan sambilan: ngeles privat), aku mampir di sebuah masjid di Mojosongo, masih berseragam hanya tanpa hasduk dan peci yang biasa aku pakai sewaktu mengajar. Setelah sholat ashar, aku duduk-duduk di teras masjid. Pemuda belasan tahun tersenyum padaku.
“SMA mana, Mas ?” sapanya padaku.
Aku tersenyum simpul. Kupandangi wajahnya. Dan dapat kutangkap bahwa dia adalah pemuda baik nan lugu. Itu menurutku.
“Saya di SD, koq Mas” jawabku
Yang bertanya semakin keheranan begitu mendengar jawaban dariku.
“Saya mengajar di SD” lanjutku tidak tega melihat wajahnya yang semakin gencar memancarkan tanda tanya.
“Ooo… ngajar to. Saya kira masih SMA”. Pemuda itu berlalu menahan malu.
Dan di hati ini, “Apa aku terlalu muda untuk menyandang predikat pak guru? Ataukah pemuda itu hanya terkelabui dengan seragam dan postur tubuhku ?”
5 tanggapan so far ↓
imgar // April 22, 2008 pada 7:29 am |
jiyeh..awet muda ya ? :p
dewi // April 29, 2008 pada 8:57 am |
alumni uns ya? jurusan apa, thn? saya bio 97. guru di al azhar juga ya?dulu ada teman saya, ika, jadi guru di sana, masih ngajar ngga ya?
may // Mei 5, 2008 pada 2:24 pm |
Cie, yang awet muda
SAHID // Mei 6, 2008 pada 6:55 pm |
Anak saya (umur 3 th) kalo manggil guru yang masih muda OM PAK GURU….
mar: kalo manggil bu guru,… tante bu gulu, gitu ?!
SAHID // Mei 6, 2008 pada 6:57 pm |
salam buat OM PAK GULU ya…..(dari raissa nih…)
mar: wa’alaikumussalam…