Sengatan matahari siang membuat hembusan angin kian terik. Mahaagung-lah yang menciptakan matahari. Yang menerbitkannya dari timur dan menenggelamkan – untuk diterbitkan lagi esok hari – di ufuk barat. Tidak bisa dibayangkan jika tanpa matahari. Kita harus punya banyak stok baju. jangan sampai tidak pakai baju karena baju yang dicuci belum kering. Pak tani juga akan kesulitan mengeringkan padi. Pohon-pohon tidak akan “memasak” makanan. Jika matahari terbitnya berhenti,… hi…ngeri. Namun seringnya manusia mengeluh: panase! Diterbitkan matahari biar tumbuhan bisa bermanfaat bagi manusia tapi manusia malah mengeluh. Bagaimana kalau Tuhan mendengar trus ngambek? Trus matahari disuruh berhenti terbit. Kun fa ya kun.
Untung Tuhan Maha Penyayang dan tidak Ngambekan.
Membaca tulisan: judi & utang, jadi ingat beberapa waktu lalu. Malam ketika pulang dari Solo, sering kulihat sekawanan bapak-bapak bersila disalah satu sudut kalurahan. BERJUDI DI KELURAHAN! Kalau siang dibuat pak lurah ngantor, kalau malam dijadikan warganya untuk “mengadu nasib“. Agaknya kebiasaan warga terendus juga. Sekarang, untuk mempertahankan kewibawaannya, kelurahan diberi pagar teralis. Bila beranjak sore, pintu pagar ditutup. Kawanan penjudi pun tidak bisa masuk. Entah pindah kemana.
Di Solo juga ada. Di sudut kota yang jarang sekali terlihat lalu-lalang orang. Beberapa kendaraan roda tiga (baca: becak) parkir. Di balik kendaraan-kendaraan itu terdapatlah beberapa bapak tukang becak “mencari tambahan penghasilan“.
Denger-denger sekarang judi juga bisa lewat internet. Wah, ternyata bandar-bandar itu peka juga terhadap perkembangan teknologi.
Judi (judi), menjanjikan kemenangan
Judi (judi), menjanjikan kekayaan
Bohong (bohong), kalaupun kau menang
Itu awal dari kekalahan
Bohong (bohong), kalaupun kau kaya
Itu awal dari kemiskinan
Judi (judi), meracuni kehidupan
Judi (judi), meracuni keimanan
Pasti (pasti), karena perjudian
Orang malas dibuai harapan
Pasti (pasti), karena perjudian
Perdukunan ramai menyesatkan
Yang beriman bisa menjadi ingkar, apalagi yang awam
Yang menang bisa menjadi jahat, apalagi yang kalah
Yang kaya bisa menjadi melarat, apalagi yang miskin
Yang senang bisa jadi sengsara, apalagi yang susah
Itu sebab judi diharamkan
Uang yang pas-pasan karuan buat makan
Itu cara sehat ‘tuk bisa bertahan
Uang yang pas-pasan karuan ditabungkan
Itu cara sehat ‘tuk jadi hartawanKalau orang sudah gila judi
Uang belanja pun dikebiri
Kalau orang sudah gila judi
Tak punya uang bisa mencuri
Sebab itu judi diharamkan
Judi
(Rhoma Irama)
